Memahami Kompetensi Pekerja Sosial

1612

Oleh: M. Ifan (Pekerja Sosial)

Setiap profesi di Indonesia memiliki standar kompetensi dalam melaksanakan pekerjaannya. Sekaligus menjadi tolok ukur dalam menjalankan pelayanan secara profesional. Kompetensi menentukan kualifikasi bagi pekerja sosial dalam melaksanakan praktik, khususnya dalam memberikan pelayanan bagi individu, kelompok dan masyarakat. Pada sisi lainnya, kompetensi menjadi standar minimal dalam melakukan praktik bagi lingkup organisasi atau institusi pelayanan tertentu.

Hal ini sangat serius bagi profesi Pekerja Sosial. Paling tidak ada tiga kualifikasi umum yang harus dikuasai. Pertama, sebagai pemberi pertolongan dan pemecah masalah sosial. Seorang Pekerja Sosial harus mampu memberikan layanan dan solusi dalam menghadapi masalah atau kasus yang dihadapi klien. Kedua, sebagai pemberdaya dan agen perubahan. Pada saat melakukan praktiknya, Pekerja Sosial harus mampu memberdayakan dan melakukan perubahan dari aspek yang paling kecil hingga yang besar. Ketiga, sebagai analis kebijakan. Selain melakukan praktik lapangan, Pekerja Sosial juga harus mampu melakukan analisa yang mendalam dan memberikan masukan dalam pengembangan kebijakan yang tepat serta sesuai dengan pokok permasalahan yang ada. Ketiganya wajib dimiliki oleh para Pekerja Sosial.

Tidak hanya itu, keharusan lainnya bagi Pekerja Sosial ialah memahami dan menguasai nilai, etika, pengetahuan, dan keterampilan pekerjaan sosial. Pemahaman akan nilai-nilai dasar Pekerja Sosial kerap dipahami sebagai hal paling dasar untuk diketahui. Nilai-nilai dasar tersebut mengenai hal; (a) Menentukan diri sendiri, (b) Aktualisasi diri, (c) Tanggung jawab sosial, (d) Penerimaan, (e) Individualisasi, (f) Menjaga kerahasiaan, (g) Tidak menghakimi, (h) Persamaan kesempataan, (i) Dukungan sosial, (j) Membantu orang menolong dirinya sendiri, (k) Menjunjung harkat dan martabat manusia (Kompetensi Inti Pekerja Sosial – IPSPI, 2015). Pada sisi lain, pengetahuan yang bersifat khusus hingga pengetahuan umum lainnya turut mendukung bagi Pekerja Sosial dalam melaksanakan praktiknya.

Terakhir, soal keterampilan yang wajib dimiliki oleh Pekerja Sosial Indonesia. Keterampilan ini perlu dipahami sebagai bagian dari esensi suatu praktik pekerjaan sosial, antara lain meliputi; (1) Pekerja sosial mampu menunjukkan keterampilan yang tepat dalam menerapkan pengetahuan ke dalam praktik; (2) Pekerja sosial mampu menunjukkan secara tepat keterampilan berkomunikasi dan bekerja secara efektif dengan pihak lain; (3) Pekerja sosial mampu menyimpan secara bertanggung jawab informasi yang didapat dan menggunakannya hanya untuk kepentingan pekerjaan; (4) Pekerja sosial menunjukkan kemauan untuk belajar secara terus-menerus melalui supervisi dan pengembangan profesional yang berkelanjutan (Kompetensi Inti Pekerja Sosial – IPSPI, 2015).

Hal-hal mendasar diatas tidak bisa luput bagi seorang Pekerja Sosial. Garis besar kompetensi tersebut juga digunakan sebagai dasar oleh kolega-kolega Pekerja Sosial di negara lain. Indonesia sendiri telah menetapkan sebuah sebuah standar yang diberi nama Kompetensi Inti Pekerja Sosial (KIPS) oleh asosiasi profesi, Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI). Selain itu, muatan standar yang sama juga digunakan oleh Lembaga Sertifikasi Pekerja Sosial (LSPS) dalam melaksanakan uji kompetensi dan sertifikasi para Pekerja Sosial Indonesia. Fungsinya menjadi tuntunan dan ukuran akan keberhasilan dalam praktik pekerjaan sosial yang profesional. Kemudian, sebagai alat kontrol kelayakan seseorang untuk menyandang profesi Pekerja Sosial Profesional. Setiap layanan yang diberikan oleh Pekerja Sosial ditujukan bagi manusia, sehingga menjadi keharusan dan kewajiban bagi seorang Pekerja Sosial benar-benar memahami, memiliki, serta menguasai kompetensi sesuai standar yang telah ditetapkan.