Modal Sebagai Pekerja Sosial

546

Oleh: Yeremias Wutun, M.Si (Pekerja Sosial)

Pertanyaan besar ketika lulus SMPS, bagaimana mengimplementasikan relasi pertolongan bagi klien dengan strategi keterlibatan klien dari proses memotret masalahnya, menganalisis, membuat rencana, melaksanakan, monitoring dan evaluasi hasilnya (They can help themselves)?

Pengalaman pertama saya ialah bekerja pada isu anak jalanan. Kala itu mengupayakan suatu persinggahan bagi anak agar tetap aman selama di jalanan. Para orangtua  juga dilibatkan agar berdaya untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak mereka. Tidak banyak permasalahan yang dihadapi di lapangan, namun pembelajaran utama yaitu sistim bantuan pelayanan yang diberikan harus memiliki disain dan strategi program yang berkelanjutan.

Pengalaman kedua saya pada isu Kesehatan dikalangan wanita pekerja seks. Ada hal menarik yang saya pelajari dari tenaga kesehatan bagaimana pendekatan konsep teman sebaya (peer). Isu WPS merupakan isu sensitif, dimana kebijakan masih abu-abu dan terminologi pendekatan lebih kepada masalah moralitas/ keagamaan. Berangkat dari sudut pandang bidang kesehatan di komunitas, ternyata ilmu pekerjaan sosial saya cukup berkembang dalam aplikasi praktik. Bagaimana melakukan pendampingan sesuai dengan pengorganisasian kelompok yang semula adalah dampingan teman sebaya menjadi kelompok bantuan, rasa perkawanan, saling melindungi (BANDUNGWANGI) dan mereka menjadi mitra dalam mendampingi sesama WPS.

Sejak berdiri tahun 1995 di Lokalisasi Kramat Tunggak Jakarta Utara, Bandungwangi mendapatkan penguatan baik dalam penjangkauan teman sebaya, penyuluhan dan pelatihan. Keahlian manajerial pengorganisasian, termasuk teknis pelaporan menjadi dasar yang kemudian membuat kelompok ini mampu menjadi mitra lembaga dalam menjangkau WPS diseluruh Jabodetabek pada tahun 1997-1998. Alhasil pada tahun 2000 mereka melegalkan diri menjadi Yayasan, hingga saat ini eksis menjadi Yayasan mitra dan kepercayaan baik lembaga lokal, kementerian dan lembaga internasional. Tidak berhenti disitu saja, beberapa orang Bandungwangi eks lokalisasi (bubar tahun 2000) pindah ke Rawa Malang – Jakarta Utara. Mereka mengorganisir diri dan mendirikan Yayasan Anak dan Perempuan pada tahun 2005. Sampai saat ini lembaga tersebut masih tetap memiliki aktifitas khusus mendampingi kelompok WPS dan masyarakat kurang mampu di Jakarta Utara. Hal menariknya ialah dalam pendekatan ini bagaimana mengedepankan bahwa klien lebih tahu masalahnya dan ditangan mereka keberhasilan atau kegagalan kegiatan akan ditentukan.

Berangkat dari kisah di atas, masalah WPS di Jakarta hampir sama dengan masalah banjir dari Bogor. Dari hasil identifikasi memperlihatkan wilayah Indramayu sebagai pemasok utama WPS dan umumnya dimulai dari usia anak-anak. Melalui penelitian studi kasus pada tahun 1998 bekerja sama dengan ILO-PKPM Atmajaya, dapat dipetakan sebab-sebab pelacuran di daerah tersebut. Berdasarkan pemetaan ini berlanjut pada inisiasi kegiatan penjangkauan masyarakat di lingkup desa  penelitian. Tahun 2003 dilakukan pendekatan intensif karena mendapat dukungan pembiayaan.  Alhasil dilakukan upaya pencegahan pelacuran anak di desa tersebut sebagai desa percontohan dengan melakukan pendekatan pengorganisasian dan pengembangan masyarakat. Keterlibatan masyarakat adalah yang utama, sehingga program ini dapat berjalan dan penurunan angka pelacuran turun secara signifikan.

Hingga saat ini sulit mencari anak-anak yang dilibatkan dalam pelacuran. Strategi mempertahankan anak pada usia sekolah untuk tetap sekolah merupakan pogram inti yang dapat berdampak langsung pada penurunan kasus. Strategi melibatkan pelaku (trafficer) didalam pelaksanaan program memiliki andil yang sangat besar suksesnya kegiatan.

Berangkat dari gagasan dibentuknya kelompok belajar taman bacaan Kusuma Bongas dan pendekatan kader kepada orangtua, kelompok ini pun berkembang. Pada beberapa program kelompok ini diberikan tanggung jawab mengelola beberapa kegiatan kerjasama, yang kemudian berkembang dalam pengelolaan program di Indramayu secara keseluruhan. Pada tahun 2011 kelompok ini memformalkan diri menjadi Yayasan Kusuma Bongas. Hingga saat ini sudah berkembang menjadi Yayasan yang sudah cukup mandiri dengan kegiatan utama mengelola sekolah SMP Kusuma Bongas, dan beberapa kerjasama program yang terkait dengan masalah trafiking dan pendampingan kesehatan bagi WPS dan ODHA di wilayah Indramayu.

Bila dibandingkan dengan panti sosial pemerintah dalam rehabilitasi WPS buah keberdayaan klien ukurannya seperti apa? Apakah WPS dilibatkan dalam proses penjangkauan, pemetaan masalahnya, perencanaan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi. Beberapa pendekatan ini menjadi bahan advokasi kepada pendekatan pemerintah (Dinas Sosial dan Kementerian Sosial) dalam intervensi masalah tuna susila baik dalam rehabilitasi dan pencegahan. Perlu dipahami pada umumnya problem WPS perlu dilihat secara holistik, pendekatan berbasis wilayah tujuan maupun wilayah asal dan perlu pendekatan yang bersifat komprehensip melibatkan sektor-sektor terkait.

Pengalaman pendekatan komunitas dunia kerja sejak tahun 1997-2003 merupakan bagian dari proses panjang. Bagaimana pendekatan sistem dan sumberdaya yang dapat menjangkau banyak orang termasuk keluarga dan masyarakat.

Pengalaman peksos lainnya di beberapa perusahaan mitra Levi’s, Nike Inc dan perusahaan Nasional lainnya menunjukkan potensi kebutuhan akan keahlian pekerja sosial. Untuk memfasilitasi sistem sumber di perusahaan dalam membantu pekerja, keluarga termasuk masyarakat sekitar dalam pemenuhan kebutuhannya. Pelajaran yang menarik ialah bagaimana kemampuan pekerja sosial mengemas paket pelayanan yang dapat diterima dunia usaha, sehingga usaha kesejahteraan pekerja dan tanggung jawab sosial perusahaan memiliki nilai manfaat ganda.

Pada periode lain, bersama teman-teman alumni pekerja sosial dari STISIP Widuri menggagas kelompok kerja sejak tahun 2001 dan pada tahun 2003 diformalkan menjadi Yayasan Pelayanan Anak dan Keluarga (LAYAK). Tujuan dan visi misi mengadopsi dari profesi pekerja sosial dengan mengedepankan pendekatan berbasis keluarga. LAYAK dipercaya oleh lembaga Donor dan Pemerintah mengembangkan pelayanan berbasis keluarga dimana para pelaksana dari berbagai disiplin ilmu dengan warna profesi utama yaitu pekerja sosial. Saat ini Yayasan LAYAK sangat identik dengan kompetensi layanan “case management” atau manajemen kasus pada (ODHA), korban Napza dan korban trafiking. Hasil kegiatan yang sudah dilakukan yaitu pendampingan manajemen kasus sebanyak 1.958 ODHA di Puskesmas, Rumah Sakit, RUTAN/LAPAS di Jakarta, melatih  1.052 Manajer Kasus di 23 Provinsi, melatih Care Support and Treatmen untuk 225 RS rujukan ARV dan Pendampingan 1.500 korban NAPZA suntik dan pendampingan 37 korban trafiking.

Beberapa pengalaman menarik lainnya dalam mengimplementasikan peran pekerja sosial dalam penanganan korban trafiking dan Irregular Migrants termasuk pengungsi selama 9 tahun. Bagaimana mengembangkan peran pekerja sosial pada isu trafiking melalui kebijakan, panduan dan peningkatan kapasitas pemerintah dan organisasi sosial lainnya.

Pelajaran yang dipetik sebagai pekerja sosial selain memiliki ketajaman pengalaman berinteraksi langsung dengan klien, juga harus memiliki kemampuan manajerial dalam pengelolaan lembaga pelayanan. Bagi pelayanan masyarakat kelas bawah keberlanjutan/ kemandirian hanya dapat dicapai bila lembaga pelayanan memiliki kemandirian. Tantangan pribadi sebagai pekerja sosial yaitu bagaimana mengembangkan jasa profesi pekerja sosial dapat dihargai langsung oleh klien, khususnya untuk segmen masyarakat menengah atas. Sementara profesi ini dipandang hanya untuk masyarakat kelas bawah dimana jasa dibayar pihak ketiga (donor luar dan pemerintah) dan ke depan diharapkan sebagian besar lulusan pekerja sosial bersedia menekuni profesi ini.

Pengalaman pribadi dalam relasi bantuan menuntut kemampuan seni artikulasi bagaimana berhadapan dengan individual, kelompok, organisasi/ kemasyarakatan dan advokasi kebijakan dengan berbagai permasalahannya. Tidak ada persoalan yang tidak dapat diatasi dan keyakinan bahwa klien mampu menyelesaikan masalahnya, maka pekerja sosial akan menemukan jiwanya dan menyatakan bahwa profesi pekerja sosial identik dengannya. Pada akhirnya bahwa tidak ada dampaknya kerja-kerja pekerja sosial bila tidak dapat berbagi pengalaman kepada kolega sebagai proses pembelajaran bersama. Mari kita berbagi pengalaman dan tidak perlu minder untuk berbagi!

*SUMBER: KECAKAPAN PENDAMPINGAN PERSEORANGAN, KELOMPOK DAN CO/CD MODAL SEBAGAI PEKERJA SOSIAL, Yeremias Wutun (Koordinator Gender dan HAM Komisi Penanggulangan AIDS Nasional)

Yeremias Wutun, M.Si 

Riwayat Pekerjaan

1.Mei 2014-sekarang, Koordinator Gender dan HAM Komisi Penanggulangan AIDS Nasional.

2.2008 –2013, Social Worker di International Organization for Migration (IOM) untuk masalah imigran dan pengungsi.

3.2005 – 2008, Social Worker di International Organization for Migration (IOM) untuk masalah trafiking.

4.1997 – 2005, Manager Program Yayasan Kusuma Buana

5.1994 – 1996, Koordinator Proyek anak jalanan P3M WIDURI

Keterlibatan dalam Organisasi

1.Pembina Yayasan Pelayanan Anak dan Keluarga, 2003-2015, di Depok

2.Penasehat Yayasan Anak dan Perempuan, 2005-2015, di Jakarta Utara

3.Pembina Yayasan Kusuma Bongas,2011-2015, di Indramayu

4.Anggota Lembaga Sertifikasi Pekerja Sosial, 2011-2015.

5.Pengurus Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI)