KEMENTERIAN SOSIAL MEMPERKUAT KAPASITAS PEKERJA SOSIAL

605

Gambar 1: Dirjen Dayasos, Pepen Nazaruddin, Ketua DPP IPSPI, Didiet W, Direktur PSPKKM Bambang Mulyadi

Socialworksketch.id – Sekitar 72 Pekerja Sosial dari 34 Provinsi bergabung dalam peningkatan kapasitas “Manajemen Kasus” di Hotel Mercure Cikini, Jakarta. Kegiatan ini dilaksanakan sejak tanggal 24 hingga 28 Oktober 2018.

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial, Pepen Nazaruddin membuka secara resmi kegiatan (24/10) didampingi Direktur PSPKKM, Bambang Mulyadi selaku direktorat penyelenggara kegiatan dan Ketua DPP Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI), Didiet W.

Peningkatan kapasitas “Manajemen Kasus” kedua kalinya melibatkan tiga orang utusan, 2 orang berasal dari DPD IPSPI dan 1 orang Pekerja Sosial dari Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3).

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan khusus mengenai “Manajemen Kasus”, yang nantinya akan diterapkan di seluruh provinsi Indonesia. Pekerja Sosial diharapkan dapat menjadi tim khusus dan dapat bergerak cepat ketika terjadi kasus-kasus yang memerlukan manajemen kasus.

Aktivitas Manajemen Kasus telah diterapkan sejak lama dalam praktik pekerjaan sosial di dunia. Memerlukan kemampuan, keterampilan dan pengetahuan khusus untuk dapat diterapkan kepada orang yang membutuhkan. Kementerian Sosial baru kali kedua menyelenggarakan peningkatan kapasitas terkait manajemen kasus kepada pekerja sosial.

Kementerian Sosial Berfokus Pada Manajemen Kasus

Direktur Pemberdayaan Sosial Perorangan Keluarga dan Kelembagaan Masyarakat (PSPKKM), Bambang Mulyadi dalam laporannya kepada DIRJEN DAYASOS menyatakan bahwa pelaksanakan peningkatan kapasitas memiliki tiga tujuan.

“Tujuan dari kegiatan ini yaitu agar pekerja sosial memahami manajemen kasus sebagai salah satu metode dalam memberikan layanan, kedua meningkatkan pelayanaan yang diberikan oleh pekerja soisal bagi klien karena penerapan manajemen kasus yang tepat dalam praktiknya, terakhir tersedianya sumber daya manusia yang dapat menjadi tenaga instruktur bagi pelatihan serupa didaerah” ujar Bambang.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Pepen Nazaruddin juga menyampaikan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi oleh Pekerja Sosial di Indonesia dewasa ini adalah praktik pelayanan yang berkualitas dan berbasis bukti.

“Pekerja sosial sebagai suatu profesi saat ini sangat dibutuhkan tidak hanya di setting layanan sosial yang kita kenal selama ini, tetapi juga diberbagai setting layanan lainnya seperti layanan kesehatan dan kesehatan jiwa, manajemen sumber daya manusia dan ketenagakerjaan, mitigasi bencana dan pemeliharan lingkungan hidup dan sebagainya” ujar Pepen dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Pepen juga menegaskan bahwa Kementerian Sosial telah memiliki dokumen yang dapat digunakan sebagai bahan pegangan bagi para Pekerja Sosial. “Kementerian Sosial telah menyusun buku panduan peningkatan kapasitas Pekerja Sosial dalam Manajemen Kasus yang merupakan hasil dari pertemuan uji coba peningkatan kapasitas Pekerja Sosial dalam Manajemen kasus yang telah dilaksanakan pada bulan Maret tahun 2018” tutupnya.

Peningkatan kapasitas manajemen kasus bagi Pekerja Sosial tahun 2018 dipandu oleh para instruktur yang berpengalaman dari berbagai setting praktik pekerjaan sosial. Para instruktur terdiri dari Nurul Eka H (Jaringah Rehabilitasi Psikososial Indonesia), Tata Sudrajat, Andri Yoga Utami, Yanti Kusumawardani, Rendiansyah Putra Dinata yang berasal dari Save The Children, M. Rondang Siahaan (Konsorsium Pekerjaan Sosial Indonesia),  dan Maykel IS (Social Work Sketch).

Gambar 2: Dirjen Dayasos, Direktur PSPKKM, Ketua IPSPI bersama Tim Instruktur dan Panitia