MENINGKATKAN KEPEDULIAN TERHADAP KASUS KEKERASAN SEKSUAL: RUMAH PEKERJA SOSIAL MELAKSANAKAN REMBUG FILM “HOPE”

1276

Gambar 1:Para Peserta Rembug Film “Hope”

Socialworksketch.id – Jumat (22/2) pagi, Social Work Sketch mengadakan rembug film yang berjudul “Hope” di Rumah Pekerja sosial, Jl. Percetakan Negara III No. 10, Jakarta Pusat. Event tiga bulanan itu terbuka untuk umum. Film dipilih menjadi tema yang memantik diskusi terkait peran pekerja sosial dalam penanganan masalah pelecehan dan kekerasan seksual.

Film besutan asal Korea Selatan yang berjudul ‘’Sowon” atau lebih dikenal dengan Hope atau harapan, dirilis pada tahun 2013 dan disutradarai oleh Lee Joon-ik. Film ini diadaptasi berdasarkan kisah nyata. Bercerita tentang seorang anak bernama Nayoung berusia 8 tahun yang menjadi korban pemerkosaan dalam perjalanan menuju sekolah.

Nayoung diperkosa oleh laki-laki berusia 57 tahun dengan kondisi mabuk, yang kemudian menyeret dan memperkosanya hingga mendapat luka yang cukup berat. Tidak tanggung-tanggung, kerugian yang dirasakan cukup parah baik secara mental maupun fisik yang menyebabkan menjadi cacat seumur hidup. Dalam cerita tersebut hanya butuh 3 hari setelah kejadian pelaku kemudian ditangkap. Pelaku mendapat hukuman 12 tahun penjara, dan dianggap tidak setimpal bagi ribuan masyarakat Korea, yang kemudian melayangkan protes.

Rembug Film dibuka oleh Koordinator PR & Event SWS, Rita Novianti dan dipandu oleh Anggi Ria Santi, S.Sos sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Pukul 13.30 WIB Diskusi Rembug Film dilanjutkan dengan menghadirkan M. Ifan sebagai penanggap. Selama proses berlangsung, para peserta sangat larut dalam film yang disajikan, dan tidak sedikit yang emosionil hingga meneteskan air mata. Film ini banyak memenangkan penghargaan salah satunya Best Film dalam 34th Blue Dragon Film Awards.

Terdapat banyak pengetahuan penting yang dapat disaring dalam film ini. Paling tidak ada beberapa hal; 1) Bagaimana penanganan dan peran Pekerja Sosial dalam isu kekerasan seksual; 2) Support system; 3) Perlindungan hak dan privasi korban tindak kejahatan seksual; 4) Payung hukum dalam penanganani kasus kekerasan dan pelecehan seksual di Indonesia. Hal ini sejalan dengan isu yang berkembang di Tanah Air.

Saat ini Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan menjadi perhatian khusus oleh Masyarakat. Dalam sesi diskusi, M. Ifan menyatakan bahwa peran Pekerja Sosial juga penting dalam penanganan dan pendampingan korban kekerasan seksual.

“Dalam rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual juga terdapat peranan profesi pekerjaan sosial yang menjadi salah satu mitra yang akan menangani kasus.” ujar Ifan.

Pada sesi tanya jawab tidak luput dari diskusi yang menarik. Para peserta diajak untuk melihat kedalaman masalah, fakta, dan solusi yang ditawarkan dalam film. Jika dikaitkan dengan keilmuan kesejahteraan sosial, seorang Pekerja Sosial dapat memanfaatkan sistem sumber dan menghubungkannya dengan keluarga dan pihak sekolah, pemberian sesi konseling, reintergasi dan reunifikasi, melaksanakan advokasi ke pihak polisi dan rumah sakit, melakukan monitoring, memberikan dukungan psikososial, hingga manajemen stres bagi keluarga.

Para peserta merasa terharu dan senang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan Rembug Film. Kegiatan ditutup dengan penyampaian kesan terakhir terhadap kegiatan. Para peserta sepakat bahwa pencegahan untuk mengurangi angka kekerasan seksual harus dimulai dari diri sendiri dan dari lingkup terkecil. Karena itu merupakan tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Gambar 2: Publikasi Rembug Film “Hope”