TUNTUTAN HADIRNYA UU PEKERJA SOSIAL MENGGEMA DI PERAYAAN HARI PEKERJAAN SOSIAL SEDUNIA KE-36

822

Gambar 1: Peserta Perayaan World Social Work Day 2019

Socialworksketch.id – Perayaan Hari Pekerjaan Sosial Sedunia ke-36 tahun ini jatuh pada tanggal 19 Maret 2019. Penetapan waktu penyelenggaraan World Social Work Day (WSWD) setiap minggu ketiga dibulan Maret. Penetapan dilakukan bersama antara IFSW (International Federation of Social Workers), IASSW (International Association of School of Social Work), dan UN (United Nation) sejak tahun 1983.

Indonesia (Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia) sebagai anggota dari IFSW turut merayakan dan mempromosikan agenda global yang sama seperti negara-negara anggota lainnya. Tema global yang diangkat tahun ini “Promoting the Importance of Human Relationships.”

IPSPI DKI Jakarta bersama Social Work Sketch turut menyelenggarakan Malam Perayaan Hari Pekerjaan Sosial Sedunia (19/3) dengan subtema “Pekerjaan Sosial sebagai Profesi yang Memperkuat dan Menjaga Hubungan Antar Manusia dan Lingkungannya” di Ruang Komunikasi Dinas Sosial DKI Jakarta. Peserta berasal dari kalangan Pekerja Sosial, Akademisi, Mahasiswa, dan perwakilan lembaga penyelenggara layanan kesejahteraan sosial di DKI Jakarta.

Perayaan ini terbagi menjadi dua sesi, pertama Let’s Talk & Share bersama anggota IPSPI dan Mahasiswa; Kedua, syukuran dan malam refleksi. Mewakili DPD IPSPI, Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc selaku Pembina DPD IPSPI DKI Jakarta memberikan sambutan kepada peserta, kemudian dilanjutkan dengan sambutan DPP IPSPI yang disampaikan oleh Yeremias Wutun, M.Si.

Ketua Tim penyelenggara Perayaan WSWD tahun 2019, Destie menyatakan bahwa perayaan tahun ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dan lebih meriah.

“Beda banget dari tahun sebelumnya ya, tahun ini kita buat dua sesi dan atusiasme peserta cukup besar. Pertama, pelaksanaan Let’s Talk & Share tentang profesi pekerjaan sosial sebagai pemersatu bangsa. Kedua, acara syukuran dengan pemotongan tumpeng, dan penyampaian refleksi oleh lima mahasiswa yang berasal dari UI, IISIP Jakarta, STISIP Widuri, UMJ dan UIN” ujar Destie.

Momen malam refleksi menjadi bagian puncak yang ditunggu-tunggu peserta. Lima mahasiswa menyampaikan poin-poin utama mengenai gambaran situasi mahasiswa hingga pekerja sosial saat ini. Kelima poin merefleksikan tetang kondisi penyelenggaraan pendidikan ilmu kesejahteraan sosial saat ini, kepedulian terhadap profesi, tantangan dan peluang pekerjaan, perlindungan dan kesejahteraan pekerja sosial, dan kehadiran Undang-undang Pekerja Sosial sebagai legalitas hukum.

Peserta yang hadir menyatakan kesiapan untuk mendukung dan turut mengawal RUU Pekerja Sosial. Kehadiran Undang-undang merupakan sebuah kebutuhan untuk menjamin legalitas, perlindungan dan pengawasan terhadap praktik pekerjaan sosial di Indonesia.

Acara WSWD di Jakarta memantik seluruh Pekerja Sosial, Akademisi, Mahasiswa dan pilar kesejahteraan sosial untuk mendorong hadirnya Undang-undang Pekerja Sosial. Pengurus Konsorsium Pekerjaan Sosial Indonesia (KPSI), Dr. Sahawiah Abdullah, M.Si menyampaikan bahwa terakhir, RUU Pekerja Sosial masih dalam proses di anggota Panja dan perlu terus dikawal.

“Saat ini masih berproses di Panja, kita akan tetap pada definisi pekerja sosial harus lulusan ilmu kesejahteraan sosial atau pekerjaan sosial, tidak diisi oleh ilmu-ilmu sosial lainnya. Kita berharap dapat segera disahkan. Komisi VIII DPR masih memiliki waktu April-September. Tapi kita berharap secepatnya dapat disahkan” ujar Sahawiah, Pengurus KPSI.

Gambar 2: Pemotongan tumpeng oleh Dr. Mariana, M.Si diberikan kepada Prof. Dr. Bambang Shergi L, M.Sc (Turut serta perwakilan IPSPI DKI Jakarta, SWS, UI, DPP IPSPI, Widuri, dan Kementerian Sosial)

Gambar 3: Refleksi Pekerjaan Sosial oleh Mahasiswa STISIP WIDURI, UI, UMJ, UIN dan IISIP Jakarta