PERAN PENTING PEKERJA SOSIAL DALAM TRANSPLANTASI ORGAN DAN JARINGAN

1162

Oleh: Ajruni Wulandestie Arifin, S.Kesos (Pekerja Sosial di SWS & Pekerja Sosial Transplantasi RSCM Tahun 2017-2019)

Perkembangan dan kemajuan zaman semakin pesat saat ini memberikan dampak secara global di berbagai bidang. Salah satunya dalam bidang kesehatan yaitu dengan hadirnya transplantasi sebagai salah satu alternatif tindakan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Dalam UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh. Transplantasi secara sederhana merupakan tindakan medis untuk memindahkan organ atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh pendonor untuk tujuan pengobatan bagi organ atau jaringan tubuh yang sudah tidak dapat berfungsi dengan baik.

Transplantasi di Indonesia sudah dilaksanakan sejak tahun 1967 pada pasien Transplantasi Kornea Mata di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Kemudian berkembang dengan dilaksanakannya Transplantasi Ginjal dan Transplantasi Hati. Seiring berjalannya waktu jumlah pasien yang mengakses layanan Transplantasi di Indonesia meningkat. Untuk Transplantasi Ginjal,operasi dapat dilaksanakan satu minggu 2-3 kali.

Faktor penyebab seorang pasien dirujuk ke tim transplantasi sangat beragam, tergantung dari hasil pemeriksaan medis masing-masing dokter spesialis baik pada transplantasi kornea mata, transplantasi ginjal, maupun transplantasi hati. Namun, ada beberapa kondisi yang biasanya menjadi faktor penyebab seseorang harus dilakukan transplantasi. Contohnya,pada transplantasi kornea mata disebabkan oleh kebutaan akibat kerusakan pada kornea mata, transplantasi hati disebabkan oleh gagal hati tahap akhir (baik sirosis karena hepatitis, atresia bilier,allagile syndrome, budd-chiari syndrome, dsb), sementara transplantasi ginjal menjadi salah satu alternatif layanan bagi pasien dengan gagal ginjal kronik selain hemodialisis atau Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).

Persepsi tentang penyakit yang dihadapi dapat berpengaruh kuat terhadap reaksi pasien, keluarga, maupun masyarakat di sekitarnya. Tidak dapat dihindarkan bahwa tindakan transplantasi dapat menimbulkan risiko baik dalam aspek biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual. Seringkali pasien menghadapi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan dukungan sosial, penyesuaian diri dan adaptasi, pemenuhan kebutuhan dasar, perawatan, tempat tinggal, serta kesiapan mental baik sebelum dilaksanakannya transplantasi, selama proses pelaksanaan operasi, hingga pasca transplantasi.

Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap proses penyembuhan dan kualitas hidup pasien. Reaksi pasien terhadap situasi yang dihadapi seringkali berpengaruh terhadap kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, peran dan fungsi sosialnya ditengah masyarakat, kemampuan diri dalam menghadapi permasalahan, serta kemampuan dalam mengakses sistem sumber. Hal ini, jika tidak dapat ditangani dengan baik akan berpengaruh terhadap keberfungsian sosial pasien transplantasi maupun keluarga.

Oleh sebab itu, kehadiran pekerja sosial sebagai bagian dari tim transplantasi organ dan jaringan berfungsi untuk memberikan pendampingan dan pelayanan dalam aspek psikososial untuk dapat meningkatkan keberfungsian sosial, meningkatkan kualitas hidup pasien transplantasi organ dan jaringan serta keluarga. Hal tersebut diperkuat dengan hadirnya peran pekerja sosial dalam Joint Comission International (JCI) yang merupakan salah satu standar akreditasi bagi Rumah Sakit berskala internasional. Dalam salah satu komponen di dalam JCI, dijelaskan bahwa bagi penerima donor, riwayat kesehatan menjadi penting bagi pemulihan kondisi kesehatan pasien, status psikologis pasien mungkin berdampak pada keberhasilan transplantasi. Selain itu, pendonor juga harus menerima edukasi dan evaluasi terhadap kondisi fisik, kondisi psikologis, serta kemampuannya dalam memahami proses donor organ serta hal-hal potensial lainnya yang memungkinkan adanya risiko yang timbul di masa mendatang. Berkaitan dengan hal tersebut, disebutkan di dalam standar JCI bahwa pekerja sosial memiliki peran dalam memberikan asesmen psikososial bersama dengan profesi lainnya, baik psikiater maupun psikolog. Pekerja sosial yang dimaksud harus memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam hal transplantasi untuk menentukan kapasitas pengambilan keputusan bagi pasien.

Bila kita menyimak penjelasan di atas, maka jelas bahwa hasil asesmen pekerja sosial dapat menjadi rekomendasi bagi pasien (baik pendonor maupun penerima donor) terhadap kelanjutan proses transplantasi. Pekerja sosial membantu pasien menemukan alternatif pemecahan masalah serta melakukan intervensi pekerja sosial yang dibutuhkan oleh pasien. Intervensi yang dilakukan oleh pekerja sosial dapat berjalan beriringan dengan proses pelaksanaan transplantasi atau harus diselesaikan terlebih dahulu masalah sosialnya karena dapat menghambat kelanjutan proses transplantasi. Hal ini ditentukan oleh hasil rapat diskusi kasus yang dihadiri seluruh tim termasuk diantaranya dokter penanggungjawab pasien, perawat ruangan, dokter bedah, dietiesien, psikiater, psikolog, komite etik, pekerja sosial, dsb. Penanganan bagi pasien transplantasi adalah penanganan dengan interdisiplin ilmu.

Pasien yang akan menjalani transplantasi harus dipastikan tidak memiliki masalah sosial yang dapat menghambat dilaksanakannya transplantasi, misalnya mengenai ketersediaan jaminan kesehatan, atau persetujuan dari anggota keluarga, bahkan ketersediaan dukungan sosial yang dapat membantu pemenuhan kebutuhan dasar selama proses transplantasi jika kedua orang tua harus sementara berhenti bekerja. Adapun pasien yang berasal dari luar kota seringkali tidak memiliki tempat tinggal sementara selama proses pengobatan, sehingga menjadi penting untuk memastikan tempat tinggal yang aksesibel, mendukung higienitas yang dibutuhkan pasien transplantasi dan tidak menimbulkan risiko infeksi yang lebih parah. Jika diperlukan pekerja sosial dapat ditugaskan untuk melaksanakan kunjungan rumah.

Belum lagi, selama proses dilaksanakannya operasi. Penting bagi pekerja sosial untuk mengidentifikasi dukungan dari keluarga dan kerabat. Hal ini berfungsi untuk memastikan kondisi psikologis keluarga tetap terjaga selama proses pelaksanaan operasi yang waktunya dapat lebih dari 10 jam. Hal ini juga penting untuk memastikan adanya pembagian peran antar keluarga baik selama proses operasi, diantaranya keluarga yang harus stand by di ruang tunggu operasi, keluarga yang akan mengurus berkas administrasi, atau seringnya kebutuhan tambahan darah yang harus diambil oleh keluarga di Bank Darah. Selain itu, sangat mungkin timbul kecemasan berlebih menjelang operasi bagi pendonor maupun penerima donor. Perlu bagi pekerja sosial memberikan dukungan berupa motivasi dan afirmasi positif bagi pasien, atau merujuk kepada rohaniawan jika diperlukan.

Tantangan bagi pasien transplantasi adalah layanan yang bersifat jangka panjang (long-term services)sehingga membutuhkan monitoring dan evaluasi terus menerus oleh tenaga kesehatan yang menangani termasuk pekerja sosial. Pasien harus rutin kontrol sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh dokter. Setiap kontrol, pasien akan dilakukan cek darah dan dipantau kondisi kesehatannya oleh dokter penanggung jawab pasien. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pekerja sosial terletak pada perubahan sosial yang mungkin terjadi pasca transplantasi misalnya intensitas komunikasi, interaksi dan kerjasama antar keluarga, pemenuhan kebutuhan dasar, kondisi tempat tinggal serta kemungkinan adanya konflik internal dalam keluarga. Tidak jarang, hal tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap perawatan pasien transplantasi. Selain itu, penting bagi pekerja sosial untuk memahami mengenai persepsi dan penerimaan pasien terhadap tindakan transplantasi karena hal ini seringkali berkaitan dengan komitmen pasien pada jadwal kontrol, pemberian susu medis, serta komitmen pasien terhadap obat yang harus dikonsumsi seumur hidup sesuai anjuran dokter penanggung jawab pasien. Seringkali pekerja sosial ditugaskan untuk melakukan kunjungan rumah setelah dilaksanakannya transplantasi karena berbagai kondisi medis yang dipengaruhi oleh kondisi sosialnya. Misalnya, pasien yang teridentifikasi mengalami infeksi karena pola interaksi pasien dengan lingkungan rumahnya yang kurang menjaga higienitas.

Sejatinya, transplantasi dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dari yang sebelumnya mengalami sakit menjadi semakin baik kondisinya. Lumrah bagi pasien transplantasi menghadapi permasalahan sosial di kehidupannya seiring dengan perawatan medis yang harus dilakukan. Namun, permasalahan sosial jika tidak teridentifikasi dan tidak diatasi dengan baik akan berdampak terhadap perawatan medis yang sedang dijalani. Fatalnya, dapat menyebabkan kematian atau transplantasi ulang. Oleh sebab itu, peran pekerja sosial menjadi sangat penting untuk membantu tim transplantasi organ dan jaringan menemukan masalah-masalah sosial yang dihadapi pasien dan dapat berisiko terhadap kondisi medisnya, serta membantu pasien untuk menemukan alternatif bagi permasalahan sosial yang sedang dihadapi.

Kehadiran pekerja sosial transplantasi menjadi hal yang baru di Indonesia. Keberadaannya telah diakuiketika Direksi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo mengadakan pertemuan dengan IPSPI DKI Jakarta tentang perlunya pekerja sosial transplantasi. Pada tahun 2017 secara resmi, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumomemilik duaorang pekerja sosial transplantasi.Pada sisi lain,secara Internasional diperkuat dengan hadirnya Society for Transplant Social Worker yang didirikan oleh Lee Suszycki di tahun 1985 (saat itu bernama National Clinical Network for Heart Transplant Social Workers). Standar akreditasi JCI saat ini menjadi standar pelayanan bagi Rumah Sakit tipe A diIndonesia sehingga idealnya seluruh Rumah Sakit tersebut memiliki pekerja sosial transplantasi. Makapeluang karir bagi pekerja sosial transplantasi baik di Indonesia mapun di Internasional terbuka lebar.

Tantangan bagi kita bersama untuk lebih peka terhadap peluang-peluang baru bagi praktik pekerjaan sosial di sekitar kita, Selain itu penting bagi mahasiswa pada program studi Ilmu Kesejahteraan Sosial/Pekerjaan Sosial untuk menemukan ketertarikan dan membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan pada bidang tertentu yang diminati. Di samping itu, institusi pendidikan harusmemfasilitasi mahasiswa dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja sesuai dengan perkembangan praktik di bidang pekerjaan sosial.

Khususnya berkaitan dengan bidang transplantasi, calon-calon pekerja sosial perlu memiliki pengalaman praktik di bidang medis ataurumah sakit; memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang dapat mendukung praktik dalam lingkup individu, kelompok, maupun masyarakat; membekali diri dengan pengetahuan yang spesifik dalam hal transplantasi terutama transplantasi hati, ginjal,kornea, serta pemahaman mengenai konsep kesehatan masyarakat; serta mendorong diri untuk familiar dengan bahasa Inggris. Tentu saja, pekerja sosial yang dimaksud adalah pekerja sosial dengan latar belakang pendidikan S1 Kesejahteraan Sosial atauDIV Pekerjaan Sosial, bersertifikat, dan tergabung aktif dalam Ikatan Profesi Pekerja Sosial Indonesia(IPSPI).