MENEROPONG MASA DEPAN PROFESI PEKERJAAN SOSIAL INDONESIA

563

Oleh: M. Ifan, S.Sos, M.Sos (Wakil Ketua IPSPI DKI Jakarta)

Kepemimpinan IPSPI (Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia) paska kongres kelima di Yogyakarta pada 2016 silam, tinggal menghitung hari. Isu calon pemimpin selanjutnya masih simpang siur. Tidak banyak usulan yang muncul ke permukaan, tapi tidak sedikit juga pihak-pihak yang mendiskusikan sembari menyeruput minuman kesukaannya.

Secara pribadi, pemikiran atas kepemimpinan sebuah asosiasi profesi haruslah sesuai dengan ruh yang diharapkan. Tidak elegan jika asosiasi profesi tidak memiliki gaya dan cita rasa khas layaknya praktisi. Kita telah bersepakat bahwa profesi pekerjaan sosial memiliki landasan kuat berdasarkan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai pekerjaan sosial pada praktiknya. Keharusan tersebut, tidak dapat digantikan oleh apapun. Justru harus diperkuat dengan kemampuan kepemimpinan yang bijaksana, keterampilan khusus, dan perspektif nasional dan global yang mumpuni.

Sebagai afiliasi dari International Federation of Social Workers (IFSW), IPSPI berstatus sebagai anggota tetap yang masih bertahan dengan sekelumit persoalannya. Sebagai bagian dari sebuah asosiasi besar dunia, peningkatan dan kemajuan negara anggotanya mendapatkan sorotan. Komunikasi internasional menjadi ruang yang wajib dikelola dengan rutin dan profesional. Bukan sekedar berbagi kabar, tetapi menuangkan ruang pemikiran sebagai kontribusi pengembangan profesi dibelahan dunia lainnya. Keterlibatan Indonesia pada konteks global selama ini mewarnai kontribusi dalam forum-forum pekerjaan sosial internasional.

Pada Konferensi Konsorsium Pekerjaan Sosial ASEAN (ASWC) kedelapan di Malaysia, 19-23 Agustus lalu, ada beberapa hal menarik sebagai informasi; Pertama, adanya agenda tentang peningkatan kapasitas, hubungan internasional, kurikulum pendidikan dan publikasi di tingkat regional ASEAN; Kedua, perkembangan bidang sosial masing-masing negara anggota ASEAN; Ketiga, adanya pertukaran informasi perkembangan profesi pekerjaan sosial di masing-masing negara anggota ASEAN; Keempat, ASEAN Consortium memiliki Training Centeryang di kelola oleh Thailand; Kelima, Indonesia memprakarsai dan mengelola ASWC Jurnal edisi ketujuh; Keenam, Negara Filipina memfasilitasi wadah kumpulan para ahli pekerjaan sosial di level ASEAN. Informasi diatas menggambarkan perkembangan signifikan yang terjadi di ASEAN.

Lantas, bagaimana refleksi kita hari ini? Untuk menyesuaikan perkembangan global, kita harus sadar bahwa Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan, bukan saja dari pembangunan infrastruktur, tetapi juga perekonomian, industri dan pembangunan manusia yang lebih unggul. Momentum 74 tahun Indonesia, turut mewarnai refleksi pada akhir-akhir ini. Sebagai profesi pertolongan manusia dan sebagai salah satu garda penyelenggara kesejahteraan sosial bagi masyarakat, perlu aksi nyata untuk berkontribusi aktif di Indonesia. Pekerjaan rumah yang terus dilakukan dalam melakukan advokasi pengesahan Rancangan Undang-undang Pekerja Sosial hingga hari ini terus bergulir. Pembenahan organisasi, penguatan pengurus daerah, pemantapan kompetensi para Pekerja Sosial, pengembangan jejaring lintas profesi, serta pengawasan kode etik yang sistematis memerlukan kerja-kerja nyata pimpinan IPSPI. Oleh karena itu kita memerlukan pemimpin seperti apa untuk mewujudkan harapan para Pekerja Sosial? Kita memerlukan pemimpin yang memuat pemikiran unggul. Paling tidak, beberapa hasil pemikiran kolega Pekerja Sosial tentang arah perubahan IPSPI diantaranya; 1) Perlunya memiliki pemimpin transformasional demi kelancaran dan kecepatan perkembangan profesi; 2) Perlunya gerakan perubahan pekerja sosial yang lebih profesional; 3) Adanya kejelasan kedudukan profesi dan kemajuan prestasi; 4) Mampu meresponi isu-isu sosial baik secara nasional maupun internasional. Mari kita semakin optimis, bahwa cita-cita profesi pekerjaan sosial di Indonesia mampu termanifestasi apabila kita memiliki pemimpin yang mampu mengilhami perubahan, inovasi, peduli terhadap kepentingan yang lebih besar, berkarisma, dan berintegritas tinggi. Mari hadir dan sukseskan Kongres IPSPI VI pada tanggal 1 September 2019 mendatang, dan tentukan pilihan sesuai dengan akal sehat.

Practice does not make perfect. Only perfect practice makes perfect -Vince Lombardi-