MENANTI AKHIR DRAMA COVID-19

474

Oleh: Amira Nadia Salsabila

Analis Sosial – Rumah Pekerja Sosial

Virus Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akhir kunjungan gelapnya. Per – 2 april 2020, terkonfirmasi sebanyak 1,016,128 kasus di seluruh dunia, dengan jumlah kematian 53,069 dan jumlah pasien yang sembuh 211,615 orang.

Kasus Covid-19 telah ditetapkan menjadi Pandemi oleh WHO (World Health Organization). Pandemi merupakan istilah yang digunakan kepada peristiwa penyebaran penyakit yang telah menyebar ke banyak orang di beberapa negara dalam waktu yang bersamaan. Ciri-ciri pandemi meliputi; virus baru, dapat menginfeksi dengan mudah, serta menyebar antar manusia dengan efisien. Jumlah penyebaran virus Covid-19 bertambah secara signifikan dan dalam skala global, saat ini vaksin belum ditemukan sehingga menahan penyebaran menjadi langkah yang penting.

Di Indonesia, Presiden RI, Joko Widodo telah menetapkan Covid-19 sebagai bencana nasional non-alam. Penyebaran virus hingga kini telah mencapai 32 provinsi dengan jumlah yang berbeda di setiap provinsinya. Dari pemantauan penulis mengenai praktik tenaga medis, rumah sakit di Indonesia memiliki perlengkapan medis yang terbatas. Terlebih lagi, jumlah pasien positif Covid-19 semakin bertambah setiap harinya membuat tenaga medis bergantian menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) bahkan ada yang terpaksa harus mengenakan jas hujan sebagai APD karena keterbatasan perlengkapan medis.

Penanganan virus Covid-19 membutuhkan peran serta berbagai pihak baik itu pemerintah, tenaga medis, pihak swasta, masyarakat, pekerja sosial dan profesional lainnya. Pekerja Sosial salah satu profesional yang berperan aktif dalam penanganan Covid-19 di seluruh dunia dengan peran yang sangat beragam.

Pembelajaran Pengalaman

Kemudian, penulis juga mengamati kasus yang terjadi di Inggris. Asosiasi Pekerja Sosial Inggris (BASW) di Inggris, berupaya mencari tahu tentang apa yang menjadi tantangan dan ketakutan para praktisi melalui sebuah survey. Hasilnya menyatakan bahwa mereka takut bagaimana cara melakukan tugas ditengah mass isolation yang terjadi di Inggris. Selain itu, beberapa Pekerja Sosial Anak mengatakan kekhawatiran bilamana terjadi praktik kekerasan di dalam rumah yang disebabkan oleh stress, anxiety, dan depresi akibat dari self-isolation. Dalam kebijakan sementara mengenai corona virus (Coronavirus Bill), aktivitas pelayanan sosial dihentikan. Proses pelayanan yang diberikan pekerja sosial dilakukan melalui online services. Kebijakan ini memiliki regulasi dan arahan bagi pekerja sosial untuk manage crisis.

Berbeda dengan Uganda, Presiden dari asosiasi pekerja sosial Uganda (NASWU) mengatakan “kini saatnya untuk pekerja sosial menawarkan/ memberikan psychosocial support (dukungan psikososial).” Kalau sebelumnya pemberian layanan psychosocial support dilakukan kepada para korban terdampak bencana alam, maka pekerja sosial dapat memberikan dukungan dengan menaikan harapan hidup di masyarakat dan meyakinkan bahwa masa-masa ini akan berlalu serta menurunkan ketakutan di masyarakat. Pekerja sosial bisa mendedikasikan dirinya sebagai social scientist yang menyediakan layanan counselling dan dukungan psikososial di tengah pandemic Covid-19.

Di Korea Selatan, Pandemi Covid-19 juga membuat semua praktik pelayanan sosial oleh pekerja sosial dihentikan. Pelayanan sosial collapse, di pusat kesejahteraan komunitas (Community welfare center) di Korea Selatan juga berhenti melayani mereka yang rentan. Nursing home untuk lansia biasanya tidak ada perawat yang harus tinggal berhari-hari, tetapi adanya pandemik membuat mereka harus tinggal selama 2 minggu di sana. Dari pemantauan penulis, para Pekerja Sosial dan Care giver tidak diperbolehkan pulang selama 2 minggu agar terdeteksi dan menghindari penyebaran, mereka tidak dapat bertemu suami/ istri serta anak-anak mereka. Praktik layanan yang diberikan oleh Asosiasi pekerja sosial korea (KASW) berupa pemeriksaan kondisi kesehatan klien melalui telefon dan memberikan meal delivery services. KASW bekerjasama dengan yayasan Community Chest of Korea melakukan donasi alat-alat kebersihan, sembako bagi mereka yang dari golongan menengah kebawah, serta mendonasikan perlengkapan medis kepada staf medis. Selain memberikan donasi, KASW memberikan layanan emergency psychosocial support dan supporting stress control untuk pekerja sosial. Terdapat pula pekerja sosial lokal yang melakukan funding dan memastikan pengiriman supply sampai kepada yang membutuhkan. Saat ini, KASW sedang merancang pembuatan social wlefare response dan membentuk social welfare task force untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Terakhir di Cina, Penulis juga melakukan pemantauan praktik pekerja sosial di China. Melalui Asosiasi Pekerja Sosial China (CASW) mereka membuat national social workers proposal untuk pekerja sosial agar melakukan personal protection, memberikan dukungan kepada masyarakat sebagai upaya preventif dan mengontrol setiap praktik yang diberikan. Upaya ini dibuat sebagai landasan prinsip kerja dan metode bagi pekerja sosial selama tindakan preventif dan masa kontrol. CASW juga membuat layanan psikososial online yang terbuka untuk publik dan (mental health assistance campaign against new coronary pneumonia) dan untuk pekerja sosial yang memberikan pelayanan tersebut (online training course).

Di Wuhan, praktik layanan tersebut dilakukan dengan sistem “2+3” online community anti-virus mode. Sebelumnya, praktik dilakukan oleh seorang pekerja sosial untuk beberapa klien, tetapi kini ada 2 pekerja profesional (1 pekerja sosia, 1 pekerja komunitas) + 3 volunteer (pekerja medis, pekerja psikologis, asisten). Mereka bekerja melalui mobile internet untuk membantu pemerintah lokal mengimplementasikan “home from home” screening dan intervensi awal.

Di Shanghai dan Guangzhou juga memberikan layanan konsultasi, dukungan psikososial, serta pemberian informasi yang untuk masyarakat mobile internet melalui “Grup Layanan Pekerja Sosial Shanghai: Pertempuran Epidemi” dan “Hotline Penjaga Cotton Sponge Pekerja Sosial Guangzhou”. Pekerja sosial di Chengdu rela pergi dari rumah ke rumah untuk memeriksa epidemi, koordinasikan pasokan medis, dan kebutuhan lainnya

Pekerja Sosial Respon Covid-19?

Dari pemantauan penulis tentang praktik di beberapa negara tersebut, Pekerja Sosial berperan aktif membantu penanganan terhadap Covid-19. Di Indonesia sendiri, peran pekerja sosial sedang dalam penguatan konsolidasi oleh DPP Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI). Hal ini dilakukan karena luasnya wilayah Indonesia, sehingga memerlukan penguatan yang sama untuk dapat melakukan layanan.

Pekerja sosial bisa menjadi garda depan dalam pemberian dukungan psikososial dan edukasi bagi masyarakat untuk melakukan proteksi diri. Pekerja sosial memberikan dukungan psikososial kepada, 1) Tenaga medis, agar mereka tetap kuat dan bisa menghadapi stress, ketakutan, dan tekanan pada dirinya ketika bekerja mengobati pasien positif Covid-19; 2) Keluarga pasien. Dukungan psikososial penting untuk mengatasi masalah cemas, khawatir akan kemungkinan hidup anggota keluarga yang sedang dirawat, kemungkinan tertular, hingga kurangnya kebutuhan pokok; 3) Pekerja Sosial. selain melakukan pelayanan kepada klien, pekerja sosial juga rentan menjadi korban dan memerlukan dukungan psikososial agar tetap dapat bekerja dalam kondisi stabil dan sehat akibat pelayanan kepada klien.

Dari berbagai pengalaman dalam penanganan kasus oleh pekerja sosial, hal yang perlu dicermati ialah pasca pandemic Covid-19. Masih diperlukan pelayanan sosial bagi masyarakat seperti, antara lain, 1) Dukungan keluarga (family support) untuk keluarga dari pasien yang meninggal; 2) Pemulihan ekonomi. penghentian aktivitas mengakibatkan pekerjaan diliburkan, gaji bulanan dipotong, dan ada banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari; dan 3) Reintegrasi aktivitas yang terputus serta proses penyesuaian kembali kepada situasi normal saat sebelum pandemic Covid-19. Oleh karena itu, kita harus siap dan berusaha untuk melakukan penyesuaian diri dengan cepat sehingga kehidupan di masyarakat bisa berjalan normal seperti sediakala.