SOCIAL WORK FORUM IX DITENGAH PANDEMI COVID-19

473

Gambar 1: Narasumber Berfoto Bersama Peserta SOWRUM-IX

-Socialworksketch.id- Social Work Forum IX kembali di gelar pada kamis (14/05) siang secara virtual. Berbeda dengan SOWRUM pada tahun-tahun sebelumnya, kali ini dilaksanakan melalui aplikasi daring. Pilihan ini diterapkan pada situasi pandemi COVID-19, sebagai bentuk penerapan protokol yang berlaku.

SOWRUM-IX secara khusus dihadirkan bagi para mahasiswa. Diikuti sebanyak 100 peserta dari berbagai daerah dengan tema “Memahami Risiko dan Membangun Ketahanan Mahasiswa Selama Masa Pandemi COVID-19.” Social Work Sketch (SWS) memandang penting para mahasiswa untuk mendapatkan pemahaman dan penguatan ditengah situasi pandemi covid-19. Para Mahasiswa juga menjadi pihak yang terdampak baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kegiatan dibuka oleh Founder SWS, M.Ifan dengan mengundang dua narasumber yang berasal dari profesi pekerjaan sosial dan psikolog. Keduanya secara bergantian berbagi materi yang cukup memantik kesadaran dan keseriusan para peserta. Pengalaman Lenny Jakaria yang aktif di Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) memberikan gambaran bagaimana situasi saat ini memaksa pemanfaatan teknologi dalam memenuhi kebutuhan pendidikan. Lebih lanjut, Lenny menggambarkan bahwa ada perubahan yang signifikan pada kehidupan kita hari ini. Para Mahasiswa diajak untuk menerapkan 3A (Adaptasi, Angkat dan Amankan).

Melengkapi keseruan SOWRUM-IX, Rami Busyra Ikram, seorang Psikolog yang juga aktif di Jaringan Rehabilitasi Psikososial Indonesia (JRPI) memberikan gambaran bagaimana mahasiswa bertahan dan berdaya dalam situasi sulit, kemudian kebutuhan dalam membangu, serta meningkatkan resiliensi.

Selama masa pandemi COVID-19 penetapan kebijakan pemerintah untuk melakukan karantina diri di rumah dan Work From Home (WFH) guna memutus mata rantai penyebaran masih menjadi pekerjaan rumah. Perubahan berdampak terhadap proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh dengan sistem daring. Masalah lain mulai muncul saat mahasiswa menilai bahwa pembelajaran daring kurang efektif karena sulit memahami materi ketika perkuliahan berlangsung dan semakin banyaknya tugas yang diberikan.

Pada sesi tanya jawab, para mahasiswa mendiskusikan tentang keluhan yang datang dari seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang melakukan penelitian skripsi. Persoalan yang dialami tidak dapatmelakukan pendataan langsung ke lapangan, bimbingan secara online yang terbatas dengan kuota internet, pembayaran iuran ditengah ekonomi orang tua yang sulit dan perpanjangan masa semester. Hal ini menyebabkan stress dan menurunnya produktifitas mahasiswa ketika mengerjakan tugas atau skripsi.

Masalah lain muncul pada beban ketika seorang mahasiswa yang sekaligus pekerja, sangat kesulitan dalam mengatur waktu dan padatnya tugas menjadi beban dan stressor meningkat. Menjawab situasi diatas, Lenny mendorong tiga tahap strategi yang harus dilakukan dalam membangun ketahanan; Pertama Adaptasi, yang berarti bahwa kita harus mengamankan kesehatan fisik dan mental diri kita terlebih dahulu. Kedua Angkat, setelah diri kita aman secara fisik dan mental, maka lakukanlah hal yang belum pernah kita lakukan seperti membaca buku yang belum pernah dibaca. Ketiga Amankan, pertahankan dan lakukan dengan menyenangkan dan selalu berpikir positif.

Rami menambahkan, cara untuk meningkatkan resiliensi atau kemampuan bertahan seseorang pada situasi buruk atau tidak menyenangkan. Pertama, identifikasi sumber daya dan kekuatan seperti dukungan dari orang terdekat kita. Kedua, miliki konsep diri yang positif dan rasa percaya diri. Ketiga, buatlah rencana-rencana yang spesifik dan realistis. Keempat, ubahlah cara pandang dan respon kita dalam menghadapi hal tersebut. Kelima, berkomunikasilah secara jelas dan bijak. Keenam, hadapi situasi tersebut dan terima hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. Ketujuh, kelola emosi dan suasana hati secara efektif. Kedelapan, bangunlah koneksi dan cari bantuan dari orang sekitar dan profesional.

Sebagai penutup, Rami menegaskan bahwa semua usaha yang dilakukan adalah sebuah proses. Tanamkan komitmen pada diri sendiri, tetap fokus pada apa yang sedang dikerjakan, dan harus persisten atau dilakukan secara terus menerus dan tidak mudah menyerah. Melengkapi apa yang disampaikan diatas, Lenny  mendorong peserta untuk selalu memberikan kata-kata positif pada diri kita sehingga hari kita menjadi lebih positif. Terakhir, penting bagi mahasiswa untuk memiliki ketahanan, fokus, dan komitmen untuk tetap produktifhingga covid-19 berakhir.

Gambar 2: Peserta SOWRUM-IX Foto Bersama

Gambar 3: Peserta SOWRUM-IX Foto Bersama