MENGAWAL KUALITAS PEKERJA SOSIAL INDONESIA

452
Gambar 1: Ketua III DPP IPSPI, M. Ifan melakukan Ziarah di Makam Alm. Bapak Toto Utomo BS di San Diego Hills

Oleh: M. Ifan

Ketua III DPP IPSPI, Founder SWS, Pengajar STISIP Widuri

Hari ini, Kamis 19 Agustus, setiap tanggal yang sama selalu terasa dengan dua hal yang berbeda. Pertama, karena tanggal tersebut merupakan hari lahir IPSPI (Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia); Kedua, momen perjuangan terhadap profesi senada dengan semarak peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Tepat 23 tahun yang lalu. Sekelompok orang telah lama merasakan kegelisahan tentang kepastian sebuah kriteria untuk menjadi seorang Pekerja Sosial, sekaligus menegakkan standar profesional yang berbeda dari kondisi waktu itu. Dinamika yang berkembang, mendorong inisiasi kongres pertama yang berlangsung di Hotel Acacia, Jakarta Pusat. 

Beberapa diantara mereka yang memiliki sumbangsih pemikiran, materi dan tenaga kala itu sebagian masih dalam kondisi sehat, sebagian lainnya telah menghadap Sang Khalik. Konsep pada saat itu, dengan modal terbilang sangat minim dan jejaring sangat terbatas menghantarkan terbentuknya sistem presidium yang mendorong adanya gotong royong selama sepuluh tahun berkarya di Indonesia.

Modal sosial yang terbangun selama sepuluh tahun menjadi awal reformasi pemisahan layanan non profesional dengan layanan profesional yang mengacu pada pendidikan, nilai, dan keterampilan pekerjaan sosial. Estafet dukungan silih berganti dari waktu ke waktu. Sebut saja, pada awal-awal dukungan datang baik yang bersifat individual dari Margiono, Alm. Dr. Ferry Johannes, Prof. Marta Haffey, Almh. Cynthia Pattiasina dan masih banyak lagi. Kemudian, dukungan yang datang selanjutnya dari DNIKS (Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial) memberikan dukungan sebagai wadah dalam melakukan pertemuan-pertemuan, BPSW (Building Professional of Social Worker), Kementerian Sosial, dan Perguruan Tinggi.

Profesionalisme Pekerja Sosial

Sebagai aktivitas profesional, Pekerja Sosial Profesional berangkat dari empat  prinsip dasar yang  sekaligus merupakan landasan filosofis pekerjaan sosial dalam memberikan pertolongan kepada kelompok sasaran yaitu penghormatan atas hak asasi manusia (HAM), penghormatan atas hak setiap orang untuk  menentukan jalan hidup sendiri, pemberian jaminan bagi setiap orang untuk  memperoleh kesempatan  yang sama, dan perwujudan tanggung  jawab sosial bagi sesama manusia.

Landasan filosofis yang pada dasarnya memperkuat penegakan Ideologi Negara Republik Indonesia, yaitu Pancasila, dirumuskan dalam tujuan nasional bangsa Indonesia, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Dengan landasan fisolofis dimaksud, maka profesi Pekerja Sosial menjadi salah satu profesi yang ikut bertanggung jawab dalam mengupayakan keberhasilan pembangunan nasional.

Dewasa ini, IPSPI bertumbuh perlahan-lahan sesuai panggilan zaman. Tugas panggilan IPSPI sebagai organisasi profesi pekerja sosial yang diakui oleh International Federation of Social Workers (IFSW)masih relevan antara lain: (1) Mewadahi Pekerja Sosial di Indonesia; (2) Memberikan rekomendasi  sertifikasi dan izin praktik (lisensi) bagi Pekerja Sosial Profesional; (3) Membela dan memperjuangkan hak dan kepentingan Pekerja Sosial Profesional  dalam melakukan tugas pelayanan pekerjaan sosial; (4) Memberikan perlindungan kepada Pekerja Sosial Profesional dan penerimaan layanan Pekerjaan Sosial; (5) Menetapkan standar praktik dan pelayanan Pekerjaan Sosial; (6) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Pekerja Sosial Profesional Indonesia demi pencapaian suatu praktik yang semakin meningkat; (7) Meningkatkan kualitas Pekerjaan Sosial melalui kerjasama antara anggota maupun dengan organisasi keilmuan dan profesi lainnya di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai catatan, dasawarsa pertama (sepuluh tahun sejak 1998) telah menjadi landasan panjang untuk IPSPI mengepakkan sayap lebih tinggi. Memasuki dasawarsa kedua, IPSPI terus mengudara tidak hanya pada level lokal dan nasional, namun internasional. Dinamika tetap mewarnai perjalanan dengan mendorong sebuah kerangka kebijakan komprehensif yang mengatur kesejahteraan sosial dan sumber daya profesional yang dibutuhkan. Hal ini tampak dengan dukungan lahirnya Undang-undang Kesejahteraan Sosial dengan sumberdaya utama yang terdiri dari Pekerja Sosial, Tenaga Kesejahteraan Sosial, Relawan Sosial dan Penyuluh Sosial. 

Kemudian, IPSPI terlibat aktif dalam mendukung lahirnya Konsorsium Pekerjaan Sosial Indonesia (KPSI) sebagai amanat pertemuan ASEAN Social Work Consortium di Filipina tahun 2011. Perayaan yang bertajuk internasional dalam momen World Social Work Day mulai bergema setiap tahunnya. Keikutsertaan IPSPI dalam pengambilan keputusan dan pertemuan ditingkat Asia Pasifik dan tingkat global semakin memberi warna dalam pengembangan profesi perkerjaan sosial di Indonesia. 

Memasuki dasawarsa ketiga tidak hanya dikancah internasional, ditingkat nasional terus diperkuat. Sejarah mencatat pada tahun 2019 setelah lebih dari 10 tahun, sebanyak 3000 anggota IPSPI kini memiliki payung hukum Undang-undang No. 14 tahun 2019 tentang Pekerja Sosial. IPSPI terus mengawal dan memberikan sumbangan pemikiran terhadap kelahiran Peraturan Menteri Sosial No. 14 Tahun 2020 tentang Standar Praktik Pekerjaan Sosial dan Peraturaan Menteri Sosial No. 17 Tahun 2020 tentang Registrasi dan Izin Praktik Pekerja Sosial, serta Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pendidikan Profesi Pekerja Sosial. Pada sisi lain, pengembangan kapasitas terhadap pekerja sosial terus dilaksanakan melalui seminar, training dan konferensi yang bersifat nasional dan internasional. 

Pekerjaan rumah IPSPI belum berhenti sampai disitu. Hingga kini, para pengurus sedang berfokus memperkuat sistem administrasi Surat Tanda Registrasi kepada seluruh pekerja sosial. Kemudian, mendorong Dewan Pengurus Daerah (DPD) untuk mengawal kebijakan daerah yang mendukung praktik mandiri melalui penerbitan SIPPS (Surat Ijin Praktik Pekerja Sosial), DPD IPSPI DKI Jakarta telah memulai proses mendorong hadirnya peraturan daerah sesuai kewajiban dan kewenangan yang terkait dengan adanya Undang-undang Pekerja Sosial, yang memuat tentang pendataan, supervisi, perijinan dan legalitas hingga biaya dasar layanan dalam praktik pekerja sosial. 

Menatap Masa Depan

IPSPI dewasa ini, memerlukan energi yang lebih besar. Bukan saja soal kemauan, tetapi juga soal aksi. Seiring perkembangan waktu, kebutuhan akan kesadaran berorganisasi dan berkontribusi kini merupakan sebuah tanggung jawab para pekerja sosial. Era keterbukaan informasi dan ruang demokrasi membuka kesempatan untuk dapat menerima segala kritik, saran dan masukan. Lompatan-lompatan besar diperlukan untuk mengejar pengentasan dan penanganan permasalahan sosial serta pembangunan sosial di Indonesia. 

IPSPI selalu bersyukur atas segala upaya orang-orang yang mendukung dengan berbagai cara. Bagi mereka yang telah mendahului kita, atas sumbangan karya dan pemikiran selama ini, IPSPI sangat menghormati dan selalu mengenang mereka. Ditengah pendemi covid-19, banyak anggota dan para pendukung setia merasakan dampak. Rasa kehilangan yang besar bagi seluruh pekerja sosial, ketika kabar duka datang dari salah seorang panutan yang memberi dukungan dan perjuangan bagi kemajuan profesi pekerja sosial di Indonesia, Drs. Toto Utomo B.S, M.Si. IPSPI menghormati dan mengenang jasa mendiang, dengan memutuskan memberikan penghargaan kepada Drs. Toto Utomo Budi Santoso, M.Si sebagai Bapak Pekerja Sosial Indonesia atas dedikasi dan jasa-jasanya bagi pengembangan profesi pekerja sosial di Indonesia dengan Surat Keputusan DPP IPSPI No. 006/SK/III/2021. 

Selanjutnya, IPSPI harus mampu memberi ruang bagi praktisi untuk menggemakan suara dari lapangan (voices from the fields). Ruang bagi pekerja sosial selalu terbuka untuk diakses. Hal inilah yang mendukung pergerakan IPSPI selalu solid, dan menyadarkan bahwa semua yang dilakukan merupakan kepentingan bersama. Kedepan, IPSPI akan terus  memperkuat kolaborasi antara pusat dan daerah dalam kegiatan pengembangan profesi seperti penyusunan kebijakan kesejahteraan sosial (pusat, provinsi, kabupaten dan kota), akreditasi lembaga kesejahteraan sosial dan sertifikasi, mendorong penerbitan jurnal pekerja sosial dengan melibatkan pihak terkait (kemsos, dinas dan perguruan tinggi), mendukung dan melindungi anggota, serta mendirikan lembaga sertifikasi profesi dibawah organisasi sebagaimana kolega-kolega asosiasi profesi pekerja sosial di negara lain. 

Akhirnya, semoga harapan dan doa yang terbaik bagi organisasi menghantarkan pertumbuhan yang pesat bagi IPSPI dimasa mendatang. Dirgahayu Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) ke 23, semoga selalu menjadi rumah yang nyaman bagi pekerja sosial indonesia. Salam Solidaritas Pekerja Sosial!

-Ab Initio, Ab Imo Pectore, Ad Infinitum-

Gambar 2: Pada hari lahir IPSPI, Pekerja Sosial Muda mengunjungi Makam Bapak Pekerja Sosial Indonesia, Alm. Drs. Toto Utomo BS, M.Si (19/8)